banner 728x250
Berita  

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Alkhairaat Soroti Lemahnya Rupiah

banner 120x600
banner 468x60

Palu – Mohammad Aril, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Alkhairaat, menyoroti lemahnya rupiah dan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai membuat ekonomi nasional masih rentan terhadap tekanan global. Menurutnya, posisi dolar yang sangat dominan dalam perdagangan internasional membuat Indonesia sulit terlepas dari pengaruh kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Hampir seluruh sektor penting nasional masih berkaitan dengan dolar, mulai dari impor barang, pembayaran utang luar negeri, hingga aktivitas investasi asing di pasar keuangan Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus terjadi sepanjang 2026. Nilai tukar rupiah bahkan sempat berada di kisaran Rp17.660,36 per dolar AS dan menjadi perhatian publik karena berdampak langsung terhadap harga barang serta biaya hidup masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama karena Indonesia masih sangat bergantung pada kebutuhan impor untuk berbagai sektor strategis seperti energi, pangan, dan industri manufaktur.

banner 325x300

Mohammad Aril menjelaskan bahwa lemahnya rupiah akan menimbulkan efek domino bagi masyarakat. Ketika dolar menguat, biaya impor menjadi lebih mahal sehingga harga barang yang berasal dari luar negeri ikut naik. Dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga masyarakat umum melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, hingga barang elektronik.

“Kalau dolar naik, harga barang ikut naik. Biaya impor mahal, harga elektronik naik, bahan baku industri naik, dan akhirnya masyarakat yang menanggung lewat kenaikan harga kebutuhan pokok. Jadi persoalan dolar ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan utama bukan hanya soal rupiah melemah, tetapi struktur ekonomi Indonesia yang dinilai masih terlalu bergantung pada sistem global berbasis dolar. Menurutnya, sejak berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Serikat berhasil menjadikan dolar sebagai pusat sistem keuangan dunia melalui sistem Bretton Woods. Hingga hari ini, sebagian besar perdagangan internasional, terutama minyak dan komoditas utama dunia, masih menggunakan dolar sebagai alat transaksi utama. Akibatnya hampir seluruh negara, termasuk Indonesia, harus memiliki cadangan dolar untuk menjaga stabilitas ekonomi mereka.

“Indonesia memang punya rupiah, tetapi dalam praktik ekonomi internasional kita masih bergantung pada dolar. Mau impor minyak, beli mesin industri, bayar utang luar negeri, semuanya menggunakan dolar. Ini menunjukkan bahwa ekonomi dunia saat ini masih dikendalikan oleh sistem keuangan yang berpusat pada Amerika Serikat,” katanya.

Selain itu, Mohammad Aril juga menyoroti pengaruh kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve terhadap ekonomi Indonesia. Menurutnya, setiap kebijakan suku bunga yang dikeluarkan The Fed hampir selalu berdampak terhadap negara berkembang. Ketika suku bunga Amerika naik, investor global biasanya menarik dana dari negara berkembang seperti Indonesia dan memindahkannya ke Amerika karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Situasi tersebut menyebabkan aliran modal keluar dari Indonesia dan membuat rupiah semakin tertekan terhadap dolar AS.

“Kita seperti ikut merasakan batuknya Amerika. Ketika The Fed bicara, rupiah langsung goyang. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kita belum benar-benar kuat dan mandiri karena masih sangat dipengaruhi keputusan negara lain,” tegasnya.

Menurut Mohammad Aril, solusi jangka panjang untuk mengurangi tekanan dolar terhadap rupiah tidak cukup hanya melalui intervensi Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar. Ia menilai pemerintah perlu membangun fondasi ekonomi nasional yang lebih mandiri melalui penguatan produksi dalam negeri, pengurangan ketergantungan impor, pembangunan industri nasional, serta memperluas kerja sama perdagangan menggunakan mata uang lokal. Dengan langkah tersebut, Indonesia dinilai dapat secara perlahan mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan memperkuat posisi rupiah dalam menghadapi tekanan ekonomi global.

“Indonesia harus mandiri secara ekonomi berdaulat secara politik agar tidak terus berada di bawah tekanan dolar Amerika. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi juga mampu berdiri dengan kekuatan ekonomi dan politiknya sendiri,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *