bergulir.com-
Tiga tahun bukan usia perayaan bagi GMNI Tojo Una-Una. Ia dibaca sebagai waktu untuk menguji arah gerakan. Peringatan HUT GMNI Touna ke-3 digelar dengan diskusi desa di Cafe Sniv Labiaba, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una, sebagai penanda sikap politik organisasi mahasiswa ini.
Kegiatan tersebut dihadiri anggota dan kader GMNI serta perwakilan sejumlah organisasi kepemudaan. Diskusi mengangkat tema “Membangun Desa Mandiri, Mewujudkan Indonesia Emas”, dengan fokus pada posisi desa dalam struktur negara dan arah pembangunan.
GMNI Tojo Una-Una menegaskan desa tidak boleh terus diposisikan sebagai penerima kebijakan. Desa harus menjadi subjek. Kemandirian desa dipandang sebagai syarat dasar bagi kedaulatan nasional. Tanpa desa yang berdaya, pembangunan hanya bergerak di pusat dan meninggalkan akar sosialnya.
Diskusi ini dimentori oleh Fadli D Lahalilik selaku Ketua DPC PA GMNI Tojo Una-Una dan Fikri Agusti selaku Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia Sulawesi Tengah. Jalannya diskusi dipandu oleh Irham S Damopolii sebagai moderator.
Ketua DPC GMNI Tojo Una-Una, Moh Ricky M Nibi, dalam sambutannya mengingatkan kader agar tetap menjaga amanah, solidaritas, dan gotong royong. Nilai tersebut disebut sebagai identitas kader GMNI yang harus hadir dalam kerja organisasi dan kerja sosial di tengah masyarakat.
Refleksi tiga tahun GMNI Tojo Una-Una tidak dimaknai sebagai agenda seremonial. Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi internal dan dorongan untuk memperkuat gerakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat Tojo Una-Una, terutama dalam isu desa dan kepentingan rakyat.
Bagi GMNI Touna, diskusi ini menjadi pengingat bahwa tugas organisasi mahasiswa tidak berhenti pada wacana. Tantangan sesungguhnya berada di luar forum, di desa-desa, tempat ketimpangan dan harapan bertemu.


















