Ketua Umum Megawati Soekarnoputri mengaku menangis setelah menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat menghadiri agenda dialog kebijakan nasional di Universitas Gadjah Mada. Ia menyebut film tersebut menggambarkan realitas yang terjadi di Papua, khususnya terkait kerusakan lingkungan dan perubahan ruang hidup masyarakat adat akibat ekspansi industri dan alih fungsi lahan.
Dalam keterangannya yang dilansir oleh Tempo, Megawati menilai isi dokumenter tersebut memberikan gambaran yang menyentuh mengenai dampak pembangunan terhadap kehidupan masyarakat lokal. Menurutnya, persoalan lingkungan di Papua bukan hanya berkaitan dengan ekonomi dan pembangunan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan budaya serta hak hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada hutan dan sumber daya alam.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita sendiri menyoroti persoalan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam di Papua Selatan. Narasi dalam film memperlihatkan dampak pembukaan lahan dan proyek pembangunan terhadap hutan, sumber pangan tradisional, hingga keberlangsungan hidup masyarakat adat yang tinggal di wilayah tersebut.
Megawati juga menyinggung pentingnya menjaga hutan dan menghormati hukum adat di tengah proses pembangunan nasional yang terus berjalan. Ia menilai pembangunan seharusnya tidak mengabaikan keberadaan masyarakat adat serta keseimbangan lingkungan hidup yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua.
Pernyataan Megawati tersebut kemudian memunculkan perhatian publik karena isu yang diangkat dalam film dokumenter itu sebelumnya sempat menjadi polemik di sejumlah daerah. Beberapa agenda pemutaran dan diskusi film diketahui pernah mengalami pembubaran, sehingga memicu perdebatan mengenai ruang kebebasan berekspresi dan diskusi publik di Indonesia.
Di sisi lain, isu Papua, pembangunan, lingkungan hidup, dan hak masyarakat adat kembali menjadi pembahasan dalam ruang politik nasional setelah pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka. Sejumlah kalangan menilai perhatian tokoh nasional terhadap persoalan Papua dapat membuka ruang dialog yang lebih luas terkait kebijakan pembangunan dan perlindungan lingkungan di kawasan tersebut.
Pernyataan Megawati juga dinilai memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan hak masyarakat adat kini semakin mendapat sorotan dalam agenda politik nasional. Dengan munculnya kembali pembahasan mengenai Papua melalui film dokumenter tersebut, publik berharap adanya perhatian lebih serius terhadap keberlanjutan lingkungan, perlindungan masyarakat adat, serta pembangunan yang berkeadilan.


















