Bergulir.com – Membuka ruang bagi remaja untuk mengenali potensi diri, berani menyampaikan aspirasi, dan merencanakan masa depan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan perkawinan anak. Berangkat dari semangat tersebut, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Tojo Una-Una bersama Lakpesdam PBNU melalui Program INKLUSI berkolaborasi dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tojo Una-Una menggelar Kelas Inspiratif dan PMII Go to School di tiga sekolah di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Kegiatan berlangsung di SMP Negeri 5 Ampana Tete pada 17 Oktober 2026, SMP Negeri 3 Ampana Tete pada 21 Oktober 2026, dan SMP Negeri 2 Ampana Kota pada 22 Oktober 2026. Program ini melibatkan PMII Rayon Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan PMII Rayon Mahbub Djunaidi, Komisariat PSDKU Universitas Tadulako Tojo Una-Una.
Melalui kegiatan ini, pelajar diajak membangun kepercayaan diri, menumbuhkan semangat belajar, serta memahami pentingnya pendidikan dan partisipasi generasi muda dalam kehidupan sosial. Lebih dari sekadar memberikan motivasi, ruang edukasi semacam ini penting untuk membantu remaja mengenali pilihan hidup dan mempersiapkan masa depannya.
Koordinator Lapangan Program INKLUSI, Salwa, menyampaikan bahwa setiap anak memiliki potensi dan hak yang sama untuk meraih cita-cita. Karena itu, anak perlu memperoleh dukungan dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya.
“Kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan kesempatan untuk meraih cita-citanya. Melalui Kelas Inspiratif dan PMII Go to School ini, kami ingin memberikan motivasi kepada para pelajar agar berani bermimpi, percaya pada kemampuan diri, serta memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Penguatan kesadaran remaja juga menjadi bagian dari upaya pencegahan perkawinan anak. Remaja perlu memperoleh informasi yang tepat mengenai hak-haknya, kesehatan diri, relasi yang sehat, serta konsekuensi dari keputusan yang dapat memengaruhi masa depan mereka. Dengan bekal tersebut, remaja diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.
Ilham menambahkan bahwa kolaborasi Fatayat NU dan PMII diharapkan dapat memperluas pemahaman pelajar mengenai pentingnya pencegahan perkawinan anak dan pergaulan yang tidak sehat.
“Kami berharap melalui kolaborasi antara Fatayat NU dan PMII, generasi muda semakin memahami pentingnya pencegahan perkawinan anak dan pergaulan bebas serta mampu membangun pergaulan yang sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan yang lebih baik,” ungkap Ilham.
Bagi PMII, keterlibatan mahasiswa di lingkungan sekolah juga menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan dengan pelajar sekaligus mendorong tumbuhnya kepedulian sosial di kalangan mahasiswa. Interaksi ini diharapkan dapat menghadirkan figur inspiratif yang dekat dengan keseharian remaja dan mendorong mereka untuk terus belajar.
Kolaborasi Fatayat NU Tojo Una-Una, Lakpesdam PBNU, dan PMII melalui Program INKLUSI menunjukkan bahwa pencegahan perkawinan anak membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar imbauan. Penguatan pengetahuan, kepercayaan diri, partisipasi, serta dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman dan setara bagi remaja.
Upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui pendampingan dan keterlibatan sekolah, keluarga, serta masyarakat agar pelajar tidak hanya termotivasi untuk meraih cita-cita, tetapi juga memperoleh dukungan nyata untuk mewujudkannya.

















