Tojo Una-Una – Aliansi mahasiswa pemuda dan rakyat (AMPERA) yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dan HMM PSDKU UNTAD Touna menggelar aksi mimbar bebas di Taman JH Kota Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una (Senin, 16 Februari 2026), sebagai bentuk kepedulian terhadap tragedi kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri akibat tekanan kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
Aksi yang berlangsung secara damai tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus perlawanan moral mahasiswa terhadap kondisi sosial yang dinilai semakin meminggirkan rakyat kecil. Massa aksi membawa spanduk yang bertuliskan “Anak kecil dilarang bermimpi di negara sendiri” serta menyampaikan orasi dan puisi secara bergantian, menyoroti kegagalan sistem dalam menjamin hak dasar anak bangsa.
Koordinator lapangan aksi Gita Floresita menyampaikan bahwa tragedi di NTT bukanlah peristiwa tunggal, melainkan potret buram ketimpangan sosial yang terus berulang. “Hari ini kita tidak hanya berduka. Kita marah. Karena kematian seorang anak akibat kemiskinan adalah tamparan keras bagi negara. Ini bukan sekadar tragedi personal, ini tragedi struktural,” tegasnya dalam orasi.
Momentum paling emosional terjadi saat Ketua HMM PSDKU UNTAD Touna, Moh Dimas Syahid Kaluku, menyampaikan pernyataan sikap melalui puisi berjudul “Negara yang Lupa Menghitung Air Mata.” Dengan nada suara yang perlahan namun semakin meninggi di bagian akhir, ia membacakan puisinya di hadapan massa.
Dalam salah satu baitnya, ia menggambarkan kondisi pilu anak-anak di wilayah timur Indonesia: “Di tanah kering yang retak oleh musim, di antara debu yang menempel di buku-buku usang, seorang anak menatap langit Nusa Tenggara Timur. Ia tidak meminta istana, hanya sebuah pensil, Ia hanya selembar harapan yang tak perlu dibayar dengan nyawa.”
Puisi tersebut menyoroti kontras antara megahnya pidato kekuasaan dan sunyinya penderitaan rakyat: “Negara berdiri megah dalam pidato, rapi dalam laporan statistik, indah dalam baliho dan konferensi pers. Namun di balik angka-angka itu, ada satu nama yang tak tercatat: seorang anak yang kalah oleh sistem.”
Pada bagian akhir, Dimas menyampaikan kritik tajam terhadap sistem yang dinilai abai terhadap suara rakyat kecil: “Jika pendidikan menjadi mahal, jika kemiskinan menjadi warisan, jika suara rakyat hanya gema di ruang kosong maka yang mati bukan hanya satu anak, tetapi juga martabat sebuah negara!”
Dalam keterangannya kepada media, Dimas menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingatkan negara agar hadir secara nyata. “Tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai berita sesaat. Ini adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan. Negara harus belajar menghitung air mata rakyatnya sebelum semuanya terlambat,” tegasnya.
Aksi mimbar bebas ditutup dengan pembacaan tuntutan bersama, mendesak pemerintah untuk memperluas akses pendidikan gratis dan berkualitas, mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem, serta memastikan perlindungan nyata bagi anak-anak di daerah tertinggal.
Melalui kegiatan ini, GMNI, LMND, dan HMM PSDKU UNTAD Touna menyatakan komitmennya untuk terus menjadi suara kritis dan moral force, mengawal isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial di Indonesia.


















